Lumut dalam Perencanaan Kota

Lumut, tanaman kecil hijau yang sering kita temui di tembok lembap atau pinggir jalan, ternyata punya potensi besar untuk membuat kota menjadi lebih bersih, sejuk, dan ramah lingkungan. Dalam dunia perencanaan kota modern, lumut kini mulai dilirik sebagai solusi hijau yang murah, efisien, dan alami.

Lumut bisa menyerap polusi udara seperti logam berat dan debu halus. Teknologi “dinding lumut” bahkan sedang dikembangkan sebagai sistem penyaring udara di kota-kota padat penduduk (Inelova et al., 2022; Ernwein & Palmer, 2024). Lumut juga dapat digunakan di atap dan dinding bangunan sebagai bagian dari “green roofing” untuk menyerap panas dan menurunkan suhu sekitar (Marsaglia et al., 2023).

Selain itu, lumut bisa dijadikan “sensor alami” untuk mendeteksi keberadaan logam berat dan polutan di udara kota (Chaudhuri & Roy, 2023; Sfetsas et al., 2024).

Lumut dapat ditempel di dinding gedung sebagai elemen estetika dan penyaring udara. Pada atap bangunan, lumut cocok digunakan karena ringan, tahan panas, dan bisa tumbuh hanya dengan air hujan (Marttinen et al., 2020). Bahkan inovasi seperti “moss concrete” sedang dikembangkan untuk menciptakan beton yang bisa ditumbuhi lumut dan menyerap CO₂ tanpa perawatan tambahan (Qureshi et al., 2025; Veeger et al., 2025).

Beberapa kota yang telah menerapkan lumut dalam perencanaannya antara lain Amsterdam, Rotterdam, dan Den Haag di Belanda. Di sana, para peneliti mengkaji spesies lumut terbaik untuk menempel di beton dan digunakan di bangunan ramah lingkungan (Veeger et al., 2025). Di Seattle, Amerika Serikat, lumut digunakan sebagai alat pemantauan logam berat di udara untuk mendukung kebijakan keadilan lingkungan (Jovan et al., 2022). Di Pakistan, arsitek mulai menerapkan beton bioresptif berbasis lumut untuk melawan smog musiman yang parah setiap tahunnya (Qureshi et al., 2025). Sementara di Thessaloniki, Yunani, lumut digunakan untuk memetakan polusi logam berat di berbagai zona aktivitas kota (Sfetsas et al., 2024).

Lumut bukan hanya tanaman liar tak berguna. Dengan desain dan perencanaan yang tepat, lumut dapat menjadi solusi alami, murah, dan efisien untuk membuat kota lebih sehat, sejuk, dan bersih.[]

Referensi:

Chaudhuri, S., & Roy, M. (2023). Global ambient air quality monitoring: Can mosses help? A systematic meta-analysis of literature about passive moss biomonitoring. Environment, Development and Sustainability. https://doi.org/10.1007/s10668-023-03043-0.
Ernwein, M., & Palmer, J. (2024). Making the mos(s)t of nature? Cleantech, smart nature-based solutions, and the ‘rendering investable’ of urban moss. Environment and Planning E: Nature and Space. https://doi.org/10.1177/25148486241295950.
Inelova, Z., Yermekov, A., & Yedilkhan, D. (2022). Usage and features of cultivation of sphagnum moss in a biotechnological system for natural filtration, purification of air in urban conditions. Bulletin of the Karaganda University: Biology, Medicine, Geography Series, 3, 67–77. https://doi.org/10.31489/2022bmg3/67-77.
Jovan, S., Zuidema, C., Derrien, M. M., Bidwell, A., Brinkley, W., Smith, R. J., … & Abel, T. D. (2022). Heavy metals in moss guide environmental justice investigation: A case study using community science in Seattle, WA, USA. bioRxiv. https://doi.org/10.1101/2022.04.20.488941.
Marsaglia, V., Brusa, G., & Paoletti, I. (2023). Moss as a multifunctional material for technological greenery systems. The Plan Journal. https://doi.org/10.15274/tpj.2023.08.01.3.
Marttinen, E. M., Niemikapee, J., Laaka‐Lindberg, S., & Valkonen, J. (2020). Fungal pathogens infecting moss green roofs in Finland. Urban Forestry & Urban Greening. https://doi.org/10.1016/j.ufug.2020.126812.
Qureshi, A., Malik, U. M., Riaz, K., & Ramzan, Z. (2025). Mitigating smog, a new challenge to Pakistan and the applications of bio-receptive materials, moss concrete an architect’s perspective. Social Sciences Spectrum. https://doi.org/10.71085/sss.04.01.209.
Sfetsas, T., Ghoghoberidze, S., Karnoutsos, P., Tziakas, V., Karagiovanidis, M., & Katsantonis, D. (2024). Spatial and temporal patterns of trace element deposition in urban Thessaloniki: A Syntrichia moss biomonitoring study. Atmosphere. https://doi.org/10.3390/atmos15111378.
Veeger, M., Veenendaal, E. M., Limpens, J., Ottelé, M., & Jonkers, H. M. (2025). Moss species for bioreceptive concrete: A survey of epilithic urban moss communities and their dynamics. Ecological Engineering. https://doi.org/10.1016/j.ecoleng.2024.107502.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *