
Kita sering mendengar bahwa es di kutub dan gunung-gunung tinggi sedang mencair akibat perubahan iklim. Tapi, pernahkah anda berpikir bagaimana dampaknya terhadap kehidupan manusia secara langsung? Tidak hanya soal suhu yang makin panas, ternyata hilangnya gletser juga membawa dampak besar pada kehidupan sosial dan budaya banyak komunitas di dunia.
Dua antropolog dari Rice University, Cymene Howe dan Dominic Boyer, mengangkat persoalan ini dalam sebuah komentar ilmiah yang diterbitkan pada 29 Mei 2025 di jurnal ternama Science. Dalam tulisan mereka, Howe dan Boyer mengajak kita untuk tidak hanya melihat pencairan gletser dari sisi ilmiah atau fisik semata, tetapi juga dari sisi kemanusiaan.
Menurut penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal yang sama, jika kita tetap menjalankan kebijakan iklim seperti sekarang, lebih dari 75% es gletser di seluruh dunia bisa lenyap sebelum abad ini berakhir. Ini bukan hanya soal angka yang besar—dampaknya bisa sangat terasa bagi masyarakat yang hidup di sekitar gletser.
Gletser selama ini bukan hanya sumber air bersih bagi sekitar 2 miliar orang, tetapi juga bagian penting dari identitas budaya dan spiritual beberapa komunitas. Ada masyarakat yang menganggap gletser sebagai makhluk hidup atau tempat suci. Ketika gletser itu mencair atau hilang, bagi mereka, itu seperti kehilangan bagian dari jiwa dan sejarah nenek moyang mereka. Bahkan, beberapa komunitas sampai mengadakan upacara pemakaman untuk gletser yang telah hilang.
Howe dan Boyer juga mengembangkan proyek bernama Global Glacier Casualty List, sebuah platform digital yang mendokumentasikan gletser-gletser yang telah mencair atau sedang dalam kondisi kritis. Proyek ini menggabungkan ilmu iklim, ilmu sosial, dan narasi masyarakat lokal untuk mengingatkan kita bahwa apa yang hilang bukan sekadar bongkahan es, tetapi juga bagian penting dari kehidupan manusia.
Selama lima tahun terakhir, dunia kehilangan sekitar 273 miliar ton es per tahun, menjadikannya periode terburuk dalam sejarah pencatatan pencairan es. Namun, ironisnya, angka sebesar itu belum cukup mendorong tindakan serius terhadap krisis iklim. Inilah alasan mengapa Howe dan Boyer percaya bahwa ilmu sosial harus bekerja bersama dengan ahli gletser dan ilmuwan iklim, untuk menjelaskan betapa pentingnya fenomena ini dan bagaimana begitu banyak kehidupan dan komunitas manusia terdampak ketika gletser menghilang.
Kemunculan tulisan ini di Science cukup istimewa karena jurnal tersebut biasanya hanya memuat penelitian dari bidang ilmu alam dan fisika. Dalam tulisannya, Howe dan Boyer menekankan bahwa mengatasi krisis iklim tidak hanya soal mengukur suhu dan mencatat data, tetapi juga soal memahami budaya, mengenang sejarah bersama, dan mendorong aksi kolektif.
PBB bahkan telah menetapkan tahun 2025 sebagai Tahun Internasional Pelestarian Gletser, sebagai upaya untuk menyadarkan dunia tentang pentingnya menjaga gletser. Howe dan Boyer menyatakan bahwa jika umat manusia bisa menahan kenaikan suhu global hingga maksimal 1,5°C, kita masih bisa menyelamatkan separuh gletser yang tersisa. Dengan kata lain, harapan masih ada—tetapi kita harus bertindak sekarang.
Walaupun sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah melihat gletser secara langsung, kehilangan mereka tetap akan berdampak pada kehidupan kita. Mulai dari pasokan air bersih, ekosistem, hingga warisan budaya. Seperti yang dikatakan Howe, “Kita sudah kehilangan banyak, tetapi masih ada begitu banyak yang bisa diselamatkan — untuk kita dan untuk generasi yang akan datang.”[]
