
Sekitar 2.600 tahun yang lalu, seorang filsuf dan ilmuwan dari Yunani bernama Anaximander membuat pemikiran yang sangat luar biasa pada zamannya. Ia adalah orang pertama yang mengatakan bahwa bumi tidak perlu bertumpu pada apa pun, melainkan mengambang di tengah ruang tak terbatas.
Anaximander lahir sekitar tahun 610 SM di kota Miletos, yang kini berada di wilayah Turki. Kota itu sangat maju dan kaya saat itu, dan juga menjadi tempat lahirnya ilmuwan pertama yang dikenal sejarah, Thales, yang sekaligus menjadi guru Anaximander.
Thales mengajarkan bahwa alam semesta sebaiknya dijelaskan dengan logika dan pengamatan, bukan hanya mengandalkan mitos atau cerita dewa-dewa. Anaximander menerima ajaran ini dan ingin memahami seluruh isi alam semesta.
Pada masa itu, orang percaya bumi harus ditopang sesuatu—seperti air, gunung, atau bahkan punggung dewa. Tapi Anaximander punya ide yang berbeda: bumi bisa tetap berada di tempatnya karena jaraknya sama dari segala arah di alam semesta. Ini adalah ide yang sangat berani dan jauh mendahului zamannya, bahkan sebelum teori gravitasi ditemukan oleh Isaac Newton.
Gagasan ini sangat penting karena membuka jalan bagi ilmuwan-ilmuwan besar setelahnya, seperti Copernicus, untuk menyatakan bahwa bumi bergerak mengelilingi matahari.
Anaximander percaya bahwa alam semesta berasal dari suatu zat awal yang tidak terbatas yang ia sebut Apeiron. Menurutnya, segalanya berasal dari zat ini dan akan kembali padanya.
Ia juga punya pandangan unik tentang langit dan bintang. Ia membayangkan bahwa matahari, bulan, dan bintang-bintang adalah cincin api yang mengelilingi bumi. Cahaya mereka muncul melalui lubang-lubang di cincin tersebut. Meskipun terlihat aneh bagi kita sekarang, pemikirannya membuat orang mulai berpikir bahwa bumi adalah sebuah bola atau cakram yang mengambang bebas di alam semesta.
Anaximander juga tertarik pada bentuk dan permukaan bumi. Ia mendengarkan cerita dari para pelancong dan menyusun peta dunia pertama yang diketahui dalam sejarah. Peta ini menggambarkan daratan dan lautan seperti yang ia pahami saat itu—jauh sebelum teknologi seperti satelit ditemukan.
Seperti gurunya Thales yang menjelaskan gempa bumi secara ilmiah, Anaximander mencoba menjelaskan petir, hujan, dan guntur. Ia mengatakan bahwa petir terjadi karena udara yang bergerak cepat dan bertabrakan, sedangkan hujan berasal dari uap air yang naik karena panas matahari. Ia bahkan sempat khawatir bahwa suatu hari semua air di bumi bisa menguap!
Anaximander juga punya pemikiran tentang asal-usul kehidupan. Ia percaya bahwa kehidupan pertama muncul di tempat basah seperti laut, kemudian berubah menjadi makhluk yang lebih kompleks dan menyebar ke daratan. Ia yakin bahwa manusia berasal dari makhluk mirip ikan, karena bayi manusia sangat lemah dan butuh waktu lama untuk mandiri, jadi pasti dulu berasal dari makhluk yang lebih mampu bertahan sendiri sejak awal.
Anaximander meninggal sekitar tahun 546 SM di usia sekitar 64 tahun. Walau semua tulisannya hilang, pemikirannya masih dikenang dan sangat berpengaruh bagi perkembangan ilmu pengetahuan hingga hari ini.
Anaximander bukan hanya seorang filsuf, tapi juga bisa disebut sebagai ilmuwan sejati pertama yang mencoba menjelaskan alam dengan akal dan pengamatan, bukan mitos. Ia punya gagasan yang sangat maju untuk zamannya—tentang bumi, langit, kehidupan, dan cuaca—yang menjadi dasar bagi banyak pemikiran ilmiah di masa depan.
Tanpa Anaximander, mungkin kita tidak akan secepat itu memahami bahwa bumi bukan pusat alam semesta, dan bahwa kehidupan berevolusi dari bentuk-bentuk sederhana menjadi kompleks. Ia benar-benar seorang pelopor ilmu pengetahuan.[]
