
Saat perdebatan nasional di Amerika Serikat semakin memanas terkait imigrasi, sebuah studi terbaru dari University of California School of Global Policy and Strategy, yang dipublikasikan oleh University of California – San Diego pada 22 Mei 2025, menantang pandangan umum tentang “brain drain”—gagasan bahwa emigrasi tenaga kerja terampil dari negara berkembang merugikan perekonomian negara asal mereka. Studi ini, yang diterbitkan dalam jurnal Science, justru menunjukkan adanya fenomena sebaliknya yang disebut “brain gain”, yaitu keuntungan yang diperoleh negara asal ketika warganya yang terampil bekerja di luar negeri.
Brain gain terjadi ketika kepergian tenaga kerja terampil justru mendorong kemajuan di negara asal melalui berbagai cara: peningkatan pendidikan, transfer keterampilan, jaringan global, hingga kiriman uang dari luar negeri. Penelitian ini menunjukkan bahwa kesempatan untuk bermigrasi ke negara seperti Amerika Serikat mendorong orang-orang di negara berpenghasilan rendah untuk berinvestasi dalam pendidikan dan pelatihan, yang pada akhirnya menciptakan dampak positif di kedua sisi: baik di negara tujuan maupun di negara asal.
Salah satu contoh yang dikaji adalah Filipina, di mana peningkatan akses visa kerja untuk perawat di AS menyebabkan lonjakan pendaftaran sekolah keperawatan di Filipina. Hasilnya mencengangkan: untuk setiap satu perawat yang bermigrasi, sembilan perawat baru dilatih di dalam negeri. Ini adalah bukti nyata brain gain—kepergian satu orang justru memicu munculnya banyak tenaga profesional baru.
Di India, peningkatan akses ke visa H-1B menyebabkan pendapatan warga India di AS meningkat sebesar 10% dan lapangan kerja di sektor IT di India bertambah sebesar 5,8%. Fenomena ini tidak hanya menunjukkan keuntungan bagi individu yang bermigrasi, tetapi juga kontribusi positif terhadap pasar tenaga kerja di negara asal mereka.
Menurut Gaurav Khanna, salah satu penulis studi dan dosen di UC San Diego, migran terampil juga seringkali menjaga hubungan profesional lintas negara, sehingga memfasilitasi perdagangan, investasi, dan kolaborasi penelitian. Para migran yang kembali dari AS ke negara asal membantu perusahaan lokal terhubung dengan rantai pasokan global dan jaringan bisnis internasional. “Banyak perdagangan bekerja melalui jaringan manusia,” jelas Khanna. “Jika Anda pernah bekerja di AS lalu kembali, Anda tahu orang-orangnya, standarnya, dan pasarnya—dan Anda bisa membangun hubungan bisnis yang bernilai jangka panjang.” Ini adalah bagian penting dari efek brain gain yang tidak banyak disadari.
Studi ini juga menyoroti bahwa kebijakan imigrasi AS yang semakin ketat—seperti pembatasan visa kerja, larangan visa pelajar, dan hambatan untuk migrasi kembali—berisiko mengganggu inovasi di AS dan memperlambat kemajuan global. Khanna menambahkan bahwa besarnya gaji di AS memotivasi banyak orang untuk mengembangkan keterampilan, bahkan jika mereka tidak jadi bermigrasi. Sebagian migran kembali dan bekerja di negara asal, sementara yang lain mengirim uang untuk pendidikan atau usaha keluarga. Semua ini berkontribusi pada pembangunan ekonomi. “Dengan tetap terbuka terhadap talenta global, AS memperkuat perekonomian sendiri dan dunia secara lebih luas,” tuturnya.
Untuk mengevaluasi apakah emigrasi tenaga kerja terampil merugikan atau menguntungkan negara asal, para peneliti menganalisis puluhan studi yang memanfaatkan eksperimen alami, seperti perubahan kebijakan visa secara tiba-tiba, lotere internasional, dan kejadian dunia nyata lainnya. Mereka kemudian membandingkan perubahan ekonomi dan sosial yang terjadi di antara kelompok yang terdampak dan yang tidak. Temuan mereka menunjukkan bahwa dalam banyak kasus, brain gain justru menjadi kekuatan tersembunyi yang membawa kemajuan besar bagi negara berkembang.[]
