
Di tengah lembaran sejarah peradaban Islam yang penuh dengan pencapaian spiritual dan transformasi sosial, terdapat satu kisah yang kerap diceritakan secara turun-temurun. Kisah ini bukan hanya populer di kalangan umat Islam, melainkan juga masyhur di tengah komunitas Kristen Koptik di Mesir. Kisah ini mengajarkan nilai-nilai tauhid, keberanian moral, dan keajaiban takdir Ilahi. Ia bermula dari masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dan berpusat pada salah satu sungai terpenting dalam sejarah manusia: Sungai Nil.
Setelah penaklukan Mesir oleh kaum Muslimin, wilayah ini berada di bawah kepemimpinan sahabat Rasulullah ﷺ yang mulia, Amr bin al-Ash. Sebagai gubernur, Amr bin al-Ash menghadapi persoalan pelik yang berakar dalam tradisi lokal: keyakinan masyarakat Mesir bahwa Sungai Nil tidak akan mengalir kecuali setelah dilaksanakan ritual tahunan berupa penumbalan seorang gadis perawan. Dalam tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad itu, gadis tersebut diambil dari keluarga yang masih lengkap orang tuanya, dipakaikan pakaian dan perhiasan terbaik, lalu dilemparkan ke sungai pada malam ke-12 bulan Ba’unah dalam penanggalan Qibti. Mereka meyakini bahwa hanya dengan cara itu Sungai Nil akan kembali mengalir deras.
Ketika masyarakat menyampaikan permintaan mereka kepada Amr bin al-Ash agar ritual ini dilanjutkan, beliau menjawab dengan tegas bahwa perbuatan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Amr berkata, “Perbuatan itu tidak diperbolehkan dalam Islam, dan sesungguhnya Islam datang untuk meruntuhkan ajaran yang ada sebelumnya.” Maka, tanpa ritual tersebut, masyarakat pun menunggu datangnya aliran air seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, waktu berlalu, dan air Sungai Nil tak kunjung mengalir. Air yang biasanya menjadi sumber kehidupan Mesir mulai surut secara drastis. Ketika memasuki bulan Abib dan Masra — bulan ke-10, 11, dan 12 dalam kalender Qibti — air tetap tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengalir. Penduduk pun merasa cemas dan bersiap meninggalkan tanah mereka untuk mencari sumber kehidupan baru.
Melihat keresahan yang meluas, Amr bin al-Ash mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Khattab di Madinah, melaporkan kondisi sungai dan keadaan rakyat Mesir yang mulai putus harapan. Balasan dari Umar pun datang. Di dalam suratnya, Umar memuji keputusan Amr yang tidak membiarkan praktik jahiliah tersebut berlanjut. Ia menegaskan bahwa Islam tidak mengakui ritual seperti itu, dan bahwa segala sesuatu hanya terjadi dengan izin Allah. Namun, yang menarik bukan hanya surat itu, melainkan sesuatu yang turut disertakan oleh Umar bin Khattab: secarik kertas kecil yang ditujukan kepada Sungai Nil itu sendiri.
Isi dari surat tersebut amat menggugah dan sarat makna tauhid yang dalam. Ketika Amr bin al-Ash membuka dan membacanya, tertulis di dalamnya:
“Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin kepada Sungai Nil Mesir. Amma ba’du: Jika engkau mengalir karena kehendakmu sendiri, maka janganlah engkau mengalir. Namun jika engkau mengalir karena perintah Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa, maka kami memohon kepada Allah agar membuatmu mengalir.”
Tanpa menunda, surat itu dilemparkan ke Sungai Nil. Dan keesokan harinya, keajaiban terjadi. Dalam satu malam saja, air Sungai Nil mengalir kembali dengan deras, bahkan mencapai ketinggian 16 hasta atau sekitar 6 hingga 7 meter. Fenomena ini terjadi secara tiba-tiba, seolah menjadi jawaban langsung atas doa dan keyakinan Umar kepada Allah. Peristiwa ini pun menandai berakhirnya tradisi penumbalan manusia di Mesir yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Kisah monumental ini tercatat dalam beberapa karya ulama besar. Di antaranya adalah Bughyatul Adzkiya’ karya Syekh Mahfudz at-Tarmasi, seorang ulama asal Jawa yang berguru di Haramain dan meninggalkan warisan keilmuan mendalam tentang hikmah dan sejarah Islam. Kisah ini juga disebutkan dalam kitab sejarah terkenal Al-Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir, yang merupakan salah satu sumber utama sejarah Islam klasik, serta dalam Uyunul Hikayah karya Imam Ibnu Jauzi, seorang ulama besar yang dikenal akan kemampuannya merangkai kisah dengan hikmah dan pelajaran yang mendalam.
Bahkan dalam karya kontemporer 150 Kisah Umar bin Khattab oleh Ahmad Abdul Al Al-Thahthawi, kisah ini kembali dituturkan dengan gaya yang mudah dipahami dan penuh inspirasi. Penulisnya menggarisbawahi bahwa kisah ini bukan sekadar cerita moral, tapi juga menunjukkan hubungan antara kepemimpinan, iman, dan campur tangan Ilahi dalam urusan dunia.
Nilai-nilai yang terkandung dalam kisah ini sangat relevan sepanjang masa. Ia mengajarkan bahwa iman kepada Allah adalah fondasi perubahan yang sejati. Bahwa tradisi yang menyimpang tidak boleh dipertahankan meskipun telah berlangsung lama. Bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya bersandar pada kekuasaan, tetapi pada keteladanan dan kebijaksanaan spiritual. Dan yang paling penting, bahwa segala sesuatu di alam semesta ini berjalan karena kehendak Allah, bukan karena mitos atau ritual manusia.
Kisah ini juga menjadi bukti kuat bagaimana seorang pemimpin Muslim tidak hanya bertugas mengelola urusan duniawi, tapi juga menguatkan akidah rakyatnya dengan tindakan simbolik yang sarat nilai tauhid. Surat Umar kepada Sungai Nil bukanlah surat biasa, melainkan pernyataan iman bahwa hanya Allah-lah yang mengalirkan air, yang menghidupkan tanah, dan yang memelihara umat manusia.
Hingga kini, Sungai Nil terus mengalir dan menjadi tulang punggung kehidupan Mesir. Dan meski kisah ini berlalu lebih dari seribu tahun silam, pesan yang dikandungnya tetap abadi: jangan pernah meragukan kekuasaan Allah, dan yakinlah bahwa segala sesuatu kembali kepada-Nya.[]
