Generasi dalam Bahaya: 0,2°C Lagi

Bayangkan, seorang anak yang lahir hari ini akan tumbuh di dunia yang jauh lebih panas, lebih kering, dan lebih berbahaya dibanding masa kecil kita dulu.

Menurut penelitian terbaru dari Vrije Universiteit Brussel (VUB), anak-anak yang lahir tahun 2020 akan menghadapi risiko tinggi mengalami bencana iklim yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bencana-bencana itu antara lain gelombang panas ekstrem, kekeringan panjang, banjir besar, kebakaran hutan, gagal panen, dan badai tropis. Semua ini bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

Jika suhu bumi naik hingga 3,5°C pada tahun 2100, maka 92% anak-anak yang lahir pada tahun 2020 akan mengalami gelombang panas ekstrem sepanjang hidup mereka. Itu berarti sekitar 111 juta anak dari satu tahun kelahiran saja akan terdampak. Bila kita menghitung semua anak usia 5 hingga 18 tahun saat ini (2025), maka jumlah anak yang akan hidup dalam risiko iklim ekstrem mencapai 1,5 miliar orang. Namun jika dunia bisa menahan pemanasan global di bawah 1,5°C, maka sekitar 654 juta anak bisa terhindar dari risiko ini.

Kondisi “belum pernah terjadi sebelumnya” di sini maksudnya adalah: tanpa perubahan iklim buatan manusia, kemungkinan seseorang mengalami bencana sebanyak itu sepanjang hidupnya sangat kecil—hanya 1 banding 10.000. Artinya, seharusnya generasi ini tidak akan mengalami bencana sebanyak ini jika tidak ada perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia.

Anak-anak dari keluarga miskin atau negara-negara berkembang adalah yang paling menderita. Di bawah kebijakan iklim saat ini, 95% dari anak-anak termiskin yang lahir pada tahun 2020 akan mengalami gelombang panas ekstrem seumur hidupnya, dibandingkan 78% anak dari kelompok yang lebih mampu. Anak-anak yang paling tidak bertanggung jawab atas perubahan iklim justru harus menanggung beban terberat.

Para ilmuwan dan lembaga kemanusiaan seperti Save the Children mendesak semua negara untuk segera bertindak. Dunia harus mengurangi emisi gas rumah kaca secara drastis dan memperbarui komitmen iklim mereka sebelum Konferensi Iklim COP30 di Brasil. Jika tidak, anak-anak hari ini akan hidup dalam keadaan darurat iklim sepanjang hidup mereka. Mereka akan menghadapi panas ekstrem yang mengganggu kesehatan dan pendidikan, badai yang merusak rumah dan sekolah, dan kekeringan yang membuat makanan makin langka.

Pada tahun 2025, jumlah anak-anak berusia 5 hingga 18 tahun yang akan mengalami bencana iklim sangat bergantung pada seberapa panas suhu bumi nantinya. Jika pemanasan global berhasil dibatasi pada 1,5°C, maka sekitar 855 juta anak akan mengalami gelombang panas sepanjang hidup mereka. Namun jika suhu naik menjadi 2,7°C, jumlahnya melonjak menjadi 1,35 miliar anak, dan pada skenario terburuk 3,5°C, sebanyak 1,51 miliar anak akan terdampak.

Untuk bencana gagal panen, sebanyak 316 juta anak terdampak dalam skenario 1,5°C, naik menjadi 400 juta anak pada 2,7°C, dan 431 juta anak pada 3,5°C. Anak-anak juga akan menghadapi risiko kebakaran hutan, yang memengaruhi 119 juta anak pada skenario 1,5°C, 134 juta anak pada 2,7°C, dan 147 juta anak pada 3,5°C.

Dalam hal kekeringan, 89 juta anak akan terdampak pada skenario 1,5°C, meningkat menjadi 111 juta pada 2,7°C, dan 116 juta pada 3,5°C. Sementara itu, banjir sungai akan menghantam 132 juta anak dalam skenario 1,5°C, lalu 188 juta anak pada 2,7°C, dan 191 juta anak pada 3,5°C. Terakhir, untuk badai tropis, jumlah anak yang terdampak adalah 101 juta pada 1,5°C, dan tetap tinggi pada 163 juta anak di skenario 2,7°C maupun 3,5°C.

Perubahan iklim bukan lagi soal masa depan yang jauh. Ini soal anak-anak kita hari ini. Dunia punya pilihan: menempuh jalan yang aman dan menjaga bumi tetap layak huni, atau membiarkan anak-anak kita hidup dalam krisis terus-menerus.

Dunia hanya tinggal 0,2°C dari batas bahaya 1,5°C. Angka tersebut akan menaikan suhu rata-rata global menjadi 15,2°C. Nilai tersebut adalah angka bahaya yang disepakati oleh para ahli. Waktunya hampir habis. Saatnya bertindak sekarang.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *