Umar bin Abdul Aziz: Diam Membawa Bencana

Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah seorang pemimpin besar dalam sejarah Islam yang sangat peduli terhadap keadaan masyarakat. Ia dikenal bukan hanya karena keadilannya, tetapi juga karena keberaniannya menegur dan membenahi keburukan yang terjadi di tengah umat. Baginya, membiarkan keburukan merajalela tanpa ada yang mengingatkan adalah awal kehancuran sebuah masyarakat.

Suatu hari, Umar menulis surat penting kepada seorang pejabatnya. Isi surat ini sangat tegas, karena ia melihat semakin banyak kejahatan dilakukan secara terang-terangan dan orang-orang baik justru diam saja. Dalam surat itu, ia mengingatkan:

“Kalau dalam suatu masyarakat muncul banyak kemungkaran dan orang-orang baik tidak menegurnya, maka Allah bisa saja menurunkan azab, baik secara langsung atau melalui orang lain, bahkan bisa lewat orang yang juga jahat.”

Umar ingin menegaskan bahwa diam terhadap kejahatan bukanlah sikap yang bijak. Justru itu bisa membawa bencana untuk semua, termasuk orang-orang baik yang memilih bungkam.

Umar juga menyampaikan bahwa ketika hal-hal yang dilarang oleh agama dibiarkan begitu saja, dan orang-orang tidak merasa perlu untuk menegurnya, maka sikap diam itu bisa mendatangkan malapetaka bagi seluruh masyarakat. Bahkan orang yang tidak ikut berbuat salah bisa saja terkena dampaknya karena membiarkan keburukan berlangsung.

Ia menekankan bahwa dalam sejarah umat-umat terdahulu, Allah hanya menyelamatkan mereka yang aktif mencegah kemungkaran. Bukan hanya yang tidak ikut berbuat dosa, tapi mereka yang benar-benar berusaha menghentikannya.

Bagi Umar, bersikap keras terhadap pelanggaran bukan berarti kasar tanpa sebab, tapi itu adalah bagian dari jihad di jalan Allah. Bahkan jika pelakunya adalah keluarga sendiri, tetap harus ditegur. Karena sejatinya, jihad tidak selalu berarti perang fisik, tetapi juga upaya membela kebenaran dan mencegah keburukan.

Allah dalam Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa umat Islam harus berani bersikap keras terhadap yang salah, dan tetap lembut serta penuh kasih sayang terhadap sesama yang taat.

Umar bin Abdul Aziz membantah anggapan yang mengatakan bahwa orang yang tidak ikut campur terhadap kejahatan adalah orang yang berakhlak baik dan menjaga diri. Baginya, justru sikap diam itulah bentuk akhlak buruk. Orang yang baik adalah orang yang peduli ketika melihat saudaranya tersesat — bukan hanya diam atau berpura-pura tidak tahu.

Bahkan, menurut Umar, orang yang tidak menegur kemungkaran sebenarnya sedang menjerumuskan dirinya sendiri dalam dosa. Karena itu adalah bagian dari perintah agama yang harus dijalankan: amar ma’ruf nahi mungkar — mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan.

Sepanjang hidupnya sebagai pemimpin, surat-surat Umar bin Abdul Aziz selalu berisi pesan-pesan untuk memperbaiki masyarakat. Ia mendorong pengembalian harta yang diambil secara tidak adil, menghidupkan ajaran Islam yang benar, dan menentang kebiasaan buruk yang tidak sesuai dengan agama.

Pesan Umar sangat jelas: jika kita membiarkan kemungkaran terjadi dan merasa itu bukan urusan kita, maka bersiaplah untuk ikut menanggung akibatnya. Sebaliknya, jika kita peduli, menegur, dan berusaha memperbaiki, maka itulah tanda kita mensyukuri nikmat Allah dan menjaga masyarakat tetap berada di jalan yang benar.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *