
Sebuah penemuan mengejutkan dalam fisika kuantum membawa harapan baru terhadap realisasi lubang cacing—jalur pintas ruang-waktu yang selama ini hanya hidup dalam dunia fiksi ilmiah. Penemuan tersebut datang dari seorang fisikawan Universitas Bristol, Hatim Salih, yang pada tahun 2023 memperkenalkan teori baru bernama counterportation. Konsep ini begitu radikal karena memungkinkan pemindahan informasi atau objek kuantum dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengirimkan partikel apa pun secara fisik. Artinya, tidak ada sinyal, foton, atau materi yang melintasi ruang—namun informasi tetap bisa muncul utuh di tempat tujuan.
Lubang cacing (Wormhole) pertama kali diperkenalkan secara teori oleh Albert Einstein dan Nathan Rosen pada tahun 1935 dalam bentuk Jembatan Einstein-Rosen. Mereka membayangkan adanya “terowongan” ruang-waktu yang bisa menghubungkan dua titik berjauhan secara instan. Namun selama puluhan tahun, konsep ini hanya bisa diuji dalam matematika dan tidak pernah bisa dibangun secara fisik. Film Interstellar yang dirilis pada tahun 2014 menjadi salah satu media populer yang memperkenalkan ide lubang cacing kepada masyarakat luas. Dalam film tersebut, lubang cacing digunakan sebagai jalan pintas oleh astronot untuk mencapai galaksi jauh dalam hitungan jam, alih-alih jutaan tahun cahaya.
Yang membuat counterportation sangat istimewa adalah pendekatan baru yang ditawarkannya. Jika lubang cacing klasik tetap memerlukan jalur fisik dalam struktur ruang-waktu—seperti terowongan yang harus dilalui—maka counterportation menghapus kebutuhan akan “perjalanan” itu sendiri. Konsep ini memanfaatkan fenomena kuantum seperti interferensi dan superposisi untuk menciptakan hubungan antara dua titik yang saling terpisah, sehingga sebuah objek atau informasi dapat dimunculkan ulang di lokasi baru tanpa pernah melintasi ruang secara langsung. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan perangkat bernama komputer kuantum bebas-pertukaran (exchange-free quantum computer) yang secara eksperimental mampu membuktikan pemindahan tanpa pertukaran partikel.
Hatim Salih, bersama para peneliti dari Bristol, Oxford, dan York, kini tengah membangun prototipe lubang cacing lokal dalam laboratorium berbasis counterportation. Tujuannya bukan hanya untuk membuktikan teori ini, tetapi juga untuk menggunakannya sebagai alat uji terhadap teori-teori besar lain dalam fisika, seperti gravitasi kuantum dan kemungkinan keberadaan dimensi lebih tinggi. Jika berhasil, counterportation bukan hanya terobosan teoretis, tapi juga fondasi teknologi masa depan—dari komunikasi ultra-cepat hingga teleportasi data kuantum, bahkan mungkin langkah awal menuju eksplorasi luar angkasa tanpa pesawat.
Kesimpulannya, dari gagasan Einstein-Rosen tahun 1935, imajinasi sinematik dalam Interstellar tahun 2014, hingga langkah eksperimen konkret Hatim Salih tahun 2023, lubang cacing tidak lagi hanya milik fiksi. Counterportation adalah lompatan pemikiran dan teknologi yang bisa mengubah cara kita memahami alam semesta: bahwa mungkin, suatu hari nanti, manusia benar-benar bisa melompati dimensi ruang dan waktu—tanpa harus bergerak sejengkal pun.[]
