
Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa partikel plastik berukuran sangat kecil—dikenal sebagai mikro dan nanoplastik—bisa masuk ke dalam tubuh manusia dan menumpuk di pembuluh darah, terutama di arteri leher. Temuan ini mengejutkan karena adanya kaitan antara penumpukan plastik ini dengan peningkatan risiko stroke, stroke ringan, dan bahkan kebutaan sementara akibat penyumbatan pembuluh darah ke retina. Partikel-partikel ini sangat kecil; mikroplastik ukurannya kurang dari 5 mm, sementara nanoplastik jauh lebih kecil lagi, tidak terlihat tanpa mikroskop. Plastik ini berasal dari limbah industri dan sampah plastik yang terurai di lingkungan seperti laut dan tanah, lalu masuk ke tubuh manusia terutama melalui makanan dan minuman—bukan hanya dari alat makan plastik atau botol kemasan seperti yang banyak orang kira.
Penelitian yang dipresentasikan dalam forum ilmiah American Heart Association ini melibatkan 48 orang dewasa. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok: mereka yang memiliki arteri sehat, mereka yang punya penumpukan plak tanpa gejala, dan mereka yang mengalami gejala stroke atau kebutaan sementara. Hasil analisis menunjukkan bahwa orang yang pernah mengalami gejala stroke memiliki kandungan plastik 51 kali lebih tinggi dalam plak arteri mereka dibandingkan orang sehat. Bahkan pada mereka yang belum bergejala tetapi sudah memiliki plak, kadar plastiknya 16 kali lebih tinggi. Ini menjadi bukti bahwa plastik tak kasat mata bisa menyusup ke bagian tubuh vital dan diam-diam membahayakan kesehatan.
Yang mengejutkan, para peneliti tidak menemukan tanda-tanda peradangan akut akibat plastik tersebut. Namun, mereka menemukan bahwa plastik ini mengganggu kerja gen pada sel imun, yang biasanya bertugas menstabilkan plak. Ketika stabilitas terganggu, plak bisa lebih mudah pecah dan menyumbat pembuluh darah, yang bisa memicu stroke. Ini menunjukkan bahwa dampak plastik terhadap tubuh manusia jauh lebih rumit daripada sekadar menyebabkan peradangan.
Dr. Ross Clark, pemimpin studi, menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap mikro dan nanoplastik. Meski belum bisa dipastikan apakah plastik ini penyebab utama stroke, riset menunjukkan bahwa ia mungkin adalah faktor risiko yang bisa dicegah. Dr. Karen Furie dari Brown University menambahkan bahwa temuan ini membuka kemungkinan baru untuk mencegah stroke dari sisi yang belum pernah dipertimbangkan sebelumnya.
Meskipun masih dalam tahap awal dan banyak hal yang perlu diteliti lebih lanjut, hasil ini menyampaikan pesan penting: racun takterlihat dari partikel plastik mungkin hidup di dalam tubuh kita, dan dampaknya bisa sangat serius. Kita mungkin harus mulai mempertimbangkan makanan dan air yang kita konsumsi sebagai pintu masuk plastik yang mengancam kesehatan pembuluh darah.[]
