
Tahun 2025 belum berjalan lama, tetapi sudah ada kabar buruk bagi teknologi iklim di Amerika Serikat. Sejumlah proyek besar yang berkaitan dengan energi bersih, seperti baterai, tenaga surya, dan angin, terpaksa dibatalkan, dikurangi skalanya, atau bahkan dihentikan sepenuhnya. Dalam tiga bulan pertama tahun ini, setidaknya ada 16 proyek bernilai sekitar Rp120 triliun (dengan nilai total $8 miliar) yang dihentikan.
Pembatalan proyek-proyek besar ini jauh lebih banyak dibandingkan dengan beberapa tahun terakhir. Menurut laporan dari E2, sebuah kelompok kebijakan non-partisan, ada beberapa alasan mengapa proyek-proyek ini gagal berjalan. Salah satunya adalah perubahan kebijakan dari pemerintah AS, terutama kebijakan terkait investasi dan tarif pajak.
Pemerintah AS, dalam beberapa bulan terakhir, berusaha menarik kembali dana investasi yang sudah dijanjikan, terutama yang terkait dengan Undang-Undang Pengurangan Inflasi (Inflation Reduction Act). Selain itu, tarif baru untuk barang-barang impor, terutama dari China (yang sangat dominan dalam produksi baterai dan teknologi energi lainnya), juga mempengaruhi pasar. Sebagai hasilnya, banyak perusahaan merasa ragu untuk melanjutkan proyek-proyek mereka.
Tidak hanya itu, permintaan untuk beberapa teknologi energi bersih, seperti kendaraan listrik (EV), juga ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi pasar. Hal ini membuat banyak perusahaan merasa bahwa mereka tidak bisa melanjutkan investasi mereka dengan keyakinan.
Menurut Michael Timberlake, direktur komunikasi dari E2, apa yang kita lihat sekarang adalah ketidakpastian yang besar di pasar teknologi energi bersih. Perusahaan-perusahaan merasa kesulitan untuk memprediksi apa yang akan terjadi ke depan, sehingga mereka memilih untuk menunda atau membatalkan proyek mereka. Ini adalah tanda awal dari ketidakpastian yang semakin besar di sektor teknologi iklim.
Meskipun ada ratusan proyek energi bersih yang telah diumumkan dalam beberapa tahun terakhir, jumlah proyek yang dilanjutkan masih jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang diperkirakan sebelumnya. Beberapa proyek yang masih berjalan termasuk pabrik-pabrik manufaktur dan fasilitas energi yang sedang dibangun. Namun, tidak sebanyak yang kita harapkan jika kebijakan energi lebih stabil.
Salah satu proyek yang dibatalkan adalah sebuah pabrik yang dibangun oleh Aspen Aerogels di Georgia. Pabrik ini seharusnya memproduksi bahan yang dapat membantu mencegah atau memperlambat kebakaran dalam baterai. Meskipun perusahaan ini sebelumnya menerima komitmen pinjaman senilai Rp10 triliun (sebesar $670 juta) dari Departemen Energi AS, mereka akhirnya memutuskan untuk fokus pada fasilitas yang ada di Rhode Island dan beberapa proyek lainnya di luar negeri, seperti di China dan Meksiko.
Meskipun banyak proyek yang dibatalkan, ini juga merupakan sinyal bahwa banyak perusahaan sedang mencoba menyesuaikan diri dengan realitas pasar dan kebijakan yang berubah. Sejumlah proyek mungkin dibatalkan atau diperkecil karena perusahaan ingin memastikan bahwa pasokan dan permintaan teknologi energi bersih tetap seimbang.
Meskipun begitu, ini tetap menunjukkan ketidakpastian besar dalam sektor teknologi iklim. Banyak perusahaan kini merasa kesulitan untuk berkomitmen dalam jangka panjang, karena kondisi pasar yang sangat berubah-ubah.
Jika tren pembatalan proyek teknologi energi bersih ini berlanjut, dampaknya bisa sangat luas, tidak hanya di AS, tetapi juga di seluruh dunia. Banyak negara yang bergantung pada teknologi energi bersih untuk mengurangi emisi karbon dan mencapai target iklim mereka. Pembatalan proyek-proyek besar ini bisa menghambat transisi global menuju energi terbarukan.
Teknologi seperti baterai, tenaga angin, dan tenaga surya adalah kunci dalam upaya pengurangan emisi global dan memerangi perubahan iklim. Jika pengembangan teknologi ini melambat, dunia bisa menghadapi tantangan besar dalam mencapai tujuan pengurangan emisi yang diperlukan untuk mencegah pemanasan global lebih dari 1,5°C.
Selain itu, ketidakpastian kebijakan ini bisa menyebabkan ketergantungan yang lebih besar pada bahan bakar fosil yang sudah terbukti merusak lingkungan. Kebijakan yang tidak stabil akan membuat investor dan perusahaan enggan berinvestasi dalam proyek energi bersih yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Jika kebijakan seperti ini berlangsung dalam jangka panjang, kita bisa melihat perlambatan dalam transisi energi global. Pemanasan global bisa terus meningkat, mengakibatkan bencana alam yang lebih sering dan parah, seperti banjir, kebakaran hutan, dan gelombang panas ekstrem. Selain itu, kerusakan ekosistem yang lebih besar, termasuk kehilangan keanekaragaman hayati, bisa memperburuk krisis lingkungan.
Lebih lanjut, jika ketergantungan pada energi fosil tetap tinggi, kualitas udara akan semakin buruk, mengarah pada masalah kesehatan global yang lebih besar. Masyarakat dunia bisa menghadapi kerugian ekonomi yang lebih besar akibat perubahan iklim yang tak terkendali.
Dengan adanya pembatalan proyek-proyek besar ini, kita bisa melihat bahwa sektor teknologi iklim di AS sedang menghadapi tantangan besar. Ketidakpastian pasar, kebijakan yang berubah-ubah, dan permintaan yang tidak sesuai dengan harapan membuat banyak perusahaan enggan melanjutkan investasi mereka. Jika kebijakan yang tidak stabil ini terus berlanjut, dampaknya terhadap teknologi energi bersih dan masa depan bumi kita bisa sangat serius.[]
