
Kota-kota di seluruh dunia kini menghadapi krisis yang jarang disadari: semakin menipisnya tutupan kanopi pohon. Pohon-pohon yang selama ini menjadi paru-paru kota perlahan menghilang, digantikan oleh gedung-gedung beton, jalan-jalan beraspal, dan kawasan pemukiman padat. Fenomena ini dikenal sebagai defisit klorofil kota.
Penelitian mengungkapkan beberapa penyebab utama berkurangnya tutupan pohon di kota. Pengembangan properti, seperti pembangunan rumah, jalan, dan fasilitas umum, menyebabkan pengurangan drastis pohon di lahan-lahan kosong dan ruang hijau. Di Tokyo, Jepang, misalnya, tutupan kanopi pohon menurun dari 9,2% pada tahun 2013 menjadi 7,3% pada 2022 (Shiraishi & Terada, 2024). Selain itu, fragmentasi habitat juga terjadi akibat pertumbuhan populasi yang pesat, seperti yang dilaporkan di Perth, Australia, di mana habitat pepohonan menjadi terpisah-pisah dan kondisinya memburuk (Barber & Hardy, 2012). Faktor lain seperti perubahan gaya hidup perkotaan yang cenderung memilih ruang terbuka beraspal, serta kurangnya perencanaan kota berbasis alam, memperparah situasi ini.
Meski begitu, ada beberapa kota yang berhasil menjaga dan meningkatkan kanopi pohonnya. Salah satunya adalah Bristol di Inggris, yang melalui program “One City Plan” berkomitmen untuk melipatgandakan tutupan pohon hingga tahun 2045. Studi menunjukkan bahwa dengan menanam sekitar 18.000 pohon besar setiap tahun, target tersebut sangat mungkin tercapai (Walters & Sinnett, 2021).
Idealnya, para ahli merekomendasikan rasio satu pohon untuk setiap orang di kota untuk menjaga keseimbangan ekologis dan kualitas hidup. Beberapa kota bahkan menetapkan target 30–40% dari total area kota harus ditutupi oleh kanopi pohon. Studi dari Australia menunjukkan bahwa peningkatan tutupan kanopi hingga 30% dapat menurunkan biaya kesehatan masyarakat serta mengurangi risiko penyakit kardiovaskular (Feng et al., 2024). Semakin besar populasi kota, semakin besar pula kebutuhan akan pohon untuk menjaga iklim mikro, kualitas udara, dan kesehatan masyarakat.
Sebagai solusi tambahan, banyak kota mulai mengadopsi desain atap hijau (green roofs) di mana atap rumah atau gedung ditanami tanaman tertentu. Atap hijau tidak hanya menambah tutupan vegetasi, tetapi juga membantu mengurangi suhu udara, menyerap air hujan, serta memperbaiki kualitas udara. Kota seperti Toronto dan Copenhagen bahkan mewajibkan gedung-gedung baru untuk memiliki atap hijau sebagai bagian dari regulasi lingkungan. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya mengembalikan klorofil ke ruang-ruang urban yang kian tergerus.
Pohon-pohon bukan sekadar elemen dekoratif kota, tetapi adalah infrastruktur vital yang menunjang kesehatan, kenyamanan, dan keberlanjutan hidup. Menjaga, menanam, dan mengembangkan kanopi pohon di kota adalah investasi jangka panjang untuk kehidupan yang lebih baik. Bagaimana dengan tempat Anda?
