
Pada April 2025 ini, dunia hiburan dikejutkan dengan kabar bahwa penyanyi pop kenamaan, Katy Perry, berhasil menorehkan sejarah pribadinya dengan melakukan perjalanan ke luar angkasa. Dengan menggunakan pesawat VSS Unity milik perusahaan Virgin Galactic, Katy Perry terbang dari Spaceport America, New Mexico, menuju batas atmosfer Bumi. Ini bukan sekadar sensasi publik, melainkan pencapaian besar bagi wisata antariksa komersial, memperlihatkan bagaimana impian masa kecil seseorang kini bisa diwujudkan dengan kemajuan teknologi modern.
VSS Unity menggunakan metode air launch, yakni pesawat diluncurkan dari pesawat induk sebelum menembus atmosfer. Meskipun terobosan ini sudah luar biasa, di dunia eksplorasi ruang angkasa terdapat teknologi yang lebih maju. SpaceX, dengan roket Starship-nya, menawarkan kemampuan perjalanan orbital, pendaratan di Bulan, dan bahkan misi antarplanet. Begitu pula dengan NASA melalui wahana Orion yang dirancang untuk membawa manusia kembali ke Bulan dan seterusnya ke Mars. Teknologi ini menggabungkan sistem peluncuran vertikal, pengisian bahan bakar di orbit, dan penggunaan kembali kendaraan untuk efisiensi maksimal. Bila dibandingkan, VSS Unity lebih terbatas dalam jangkauan dan kapasitasnya dibandingkan kendaraan generasi terbaru seperti Starship.
Dari sisi sains, perjalanan luar angkasa bukan hanya tentang pencapaian teknologi, tetapi juga tentang memperdalam pemahaman kita terhadap kosmos. Pengalaman melihat Bumi dari luar angkasa memberikan perspektif baru tentang betapa kecilnya planet kita di tengah luasnya semesta. Fenomena seperti efek “overview” (overview effect) — perasaan spiritual dan emosional yang mendalam saat melihat Bumi dari luar — sering dilaporkan oleh para astronaut. Ini membuktikan bahwa eksplorasi ruang angkasa tidak hanya soal sains dan teknologi, tetapi juga tentang mengenal keterbatasan dan keajaiban eksistensi manusia.
Salah satu momen paling menyentuh dalam perjalanan ini adalah saat Katy Perry, setelah kembali menginjakkan kaki di Bumi, secara spontan bersujud ke tanah. Setelah melihat bumi dari kejauhan, Ia merasa bahwa dirinya terhubung serta terdapat perubahan berupa cinta yang besar dari dalam dirinya – sebuah ungkapan yang merefleksikan betapa kecilnya Bumi dari angkasa membuatnya merasa begitu rendah di hadapan kekuasaan yang lebih besar. Tindakan bersujud ini merupakan ekspresi alami dari gharizatun tadayyun — naluri beragama yang melekat dalam diri manusia – apapun agamanya, yang mendorong seseorang untuk tunduk dan merendahkan diri kepada sesuatu yang lebih agung dari dirinya. Dalam pengalaman Katy, insting spiritual ini terwujud dalam bentuk nyata: sujud syukur sebagai bentuk pengakuan atas keajaiban hidup dan penciptaan.
Dalam perspektif Islam, perjalanan ke luar angkasa dapat menjadi momentum spiritual yang dalam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Wahai jamaah jin dan manusia! Jika kamu mampu menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah).” (QS. Ar-Rahman: 33)
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu dan teknologi yang memungkinkan manusia menembus langit adalah bagian dari karunia Allah SWT. Oleh karena itu, setiap langkah manusia dalam menjelajah alam semesta seharusnya meningkatkan rasa syukur, keinsafan, dan kekaguman terhadap Sang Pencipta. Bagi seorang Muslim, pencapaian seperti ini bukan hanya tentang mengagumi kecanggihan teknologi, tetapi juga mendorong untuk lebih mengenal kebesaran Allah melalui penciptaan-Nya yang luar biasa.
Dengan demikian, perjalanan Katy Perry ke luar angkasa bukan hanya menjadi tonggak dalam sejarah hiburan dan teknologi, tetapi juga sebuah undangan bagi kita semua — untuk merenungi keagungan sains, mengenali naluri ketundukan kepada Sang Pencipta, serta memperdalam kesadaran spiritual terhadap siapa diri kita di hadapan semesta yang begitu luas.
