Zawiyah: Rumah Ilmu dan Ruhiyah Kesultanan Buton

Di tengah kerinduan akan sistem pendidikan yang bermakna dan bernilai spiritual, muncul semangat baru dari generasi muda Buton untuk menengok kembali warisan karya leluhur mereka. Salah satunya adalah Irwansyah Amunu, seorang tokoh intelektual muslim muda Buton yang dikenal karena kepeduliannya terhadap dakwah Islam. Ia menggagas kebangkitan Zawiyah sebagai pusat pendidikan ruhiyah yang telah lama tertidur di tanah kelahirannya, dengan membentuk Zawiyah Center. Bagi Irwansyah, zawiyah bukan sekadar lembaga tradisional, tetapi fondasi kultural dan spiritual Buton yang perlu dihidupkan kembali sebagai jawaban atas krisis pendidikan modern yang miskin ruhiyah, khususnya di tanah Buton.

Kesultanan Buton di Sulawesi Tenggara merupakan salah satu kekuasaan Islam maritim yang menonjol di kawasan timur Indonesia. Selain dikenal karena sistem pemerintahannya yang unik dan sistem hukum adat berbasis syariat (Sarapatanguna), Kesultanan Buton juga memiliki institusi pendidikan tradisional Islam yang khas — Zawiyah. Dalam konteks Buton, zawiyah tidak hanya menjadi tempat ibadah atau pengajian, tetapi juga merupakan pusat transformasi ilmu, spiritualitas, dan kepemimpinan.

Secara etimologis, zawiyah berasal dari bahasa Arab yang berarti “sudut” atau “tempat berdiam”, namun dalam tradisi Islam Nusantara, zawiyah berkembang menjadi pusat pendidikan dan penggemblengan ruhani yang menyerupai pesantren atau dayah di wilayah lain seperti Aceh dan Sumatera Barat (Rahman, 2021).

Pembentukan zawiyah sebagai lembaga pendidikan Islam kemungkinan besar terjadi pasca Islamisasi formal Kesultanan Buton, yakni sekitar abad ke-16 hingga ke-17 Masehi, terutama setelah pengaruh tasawuf dan ulama dari Timur Tengah mulai menguat di wilayah ini.

Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa Kesultanan Buton mengalami islamisasi secara resmi pada masa pemerintahan Sultan Murhum (Sultan pertama) dan berkembang pesat di masa Sultan La Elangi (Sultan ke-4) dan sesudahnya, ketika hukum Islam dan struktur keulamaan semakin dilembagakan dalam sistem pemerintahan dan pendidikan Buton (Zakaria, 2007).

Dalam sistem pendidikan Buton, zawiyah merupakan ruang pengajaran ilmu-ilmu agama seperti tauhid, fikih, tasawuf, serta pembinaan akhlak dan kepemimpinan. Para ulama dan guru yang mengelola zawiyah biasanya memiliki hubungan erat dengan istana, dan sering kali menjadi penasihat sultan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam, melalui lembaga-lembaga seperti zawiyah, telah menjadi fondasi struktural dalam pemerintahan Buton — sebuah praktik yang juga ditemui di Kesultanan Gowa-Tallo dan Palembang (Suradi, 2022).

Zawiyah juga memainkan peran penting dalam proses Islamisasi masyarakat Buton. Sebagaimana dijelaskan dalam studi Pairin et al. (2024), proses islamisasi di kawasan Sulawesi Tenggara, termasuk di Buton, bersifat dialogis dan integratif — menggabungkan nilai-nilai Islam dengan hukum adat lokal melalui pendidikan dan dakwah lembut di lembaga-lembaga seperti zawiyah.

Zawiyah di Buton bukan hanya tempat belajar, tetapi juga berfungsi sebagai pusat penyebaran ilmu tasawuf yang berkembang di Nusantara bagian timur. Dari sinilah para dai dan ulama Buton menyebarkan Islam ke pulau-pulau sekitar seperti Wakatobi, Muna, dan bahkan hingga Maluku.

Salah satu warisan intelektual zawiyah yang penting adalah naskah-naskah keislaman berbahasa Wolio (bahasa lokal Buton) dengan aksara Arab gundul (pegon). Naskah-naskah ini digunakan untuk mengajarkan fikih, tasawuf, dan sejarah Islam lokal. Praktik ini mirip dengan pendekatan pendidikan di pesantren-pesantren tradisional di Nusantara, yang mengintegrasikan budaya lokal dalam penyampaian ilmu agama (Zakaria, 2007).

Di tengah arus modernisasi pendidikan saat ini, sistem pendidikan kita semakin menekankan pada pencapaian kognitif, kompetensi teknis, dan orientasi karier. Namun, pendidikan yang miskin ruhiyah (spiritualitas dan moralitas) menciptakan krisis karakter dan hilangnya makna dalam proses belajar-mengajar. Nilai-nilai seperti kesabaran, keikhlasan, tanggung jawab sosial, dan cinta ilmu kini kerap terpinggirkan oleh nilai ujian dan indeks prestasi.

Inilah saatnya kita menengok kembali warisan seperti zawiyah — lembaga yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan tetapi juga membentuk jiwa. Dalam zawiyah, proses pendidikan adalah ibadah. Hubungan guru dan murid bukan hanya akademik, tapi spiritual dan etikal. Pendidikan tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tapi menanamkan hikmah.

Zawiyah bisa diadopsi kembali dalam bentuk ruang-ruang kontemplatif di sekolah dan kampus, penguatan relasi batin antara guru dan siswa, serta integrasi kurikulum spiritual dalam sistem pendidikan nasional. Di era kecemasan kolektif dan krisis identitas, pendekatan zawiyah dapat menjadi penawar keringnya batin generasi muda.

Zawiyah di Kesultanan Buton bukan hanya monumen sejarah, tapi juga cermin peradaban pendidikan yang menyatukan ilmu, adab, dan ruh. Menghidupkan kembali semangat zawiyah dalam sistem pendidikan modern — seperti yang diniatkan oleh Irwansyah Amunu dan generasi muda Buton lainnya — adalah ikhtiar luhur untuk membangun generasi yang cerdas secara intelektual dan matang secara spiritual. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, zawiyah adalah oase yang menawarkan arah, makna, dan ketenangan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *