Kiamat Sains di Amerika?

Pada masa lalu, Kesultanan Utsmaniyah dikenal dengan julukan “The Sick Man of Europe” — simbol dari sebuah kekuasaan besar yang perlahan merosot karena korupsi internal, lemahnya sistem pemerintahan, tekanan geopolitik, dan ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan zaman. Hari ini, Amerika Serikat, negara yang dulunya dianggap mercusuar demokrasi dan sains dunia, mulai menunjukkan gejala-gejala serupa. Salah satu indikator paling mengkhawatirkan adalah pelemahan terhadap dunia akademik dan sains — sebuah kemunduran peradaban yang mengingatkan kita pada detik-detik terakhir imperium yang sedang sekarat.

Masa pemerintahan Donald Trump menandai babak baru dari konflik antara politik populis dan komunitas ilmiah. Selama pandemi COVID-19, Trump secara terbuka meremehkan sains dan ahli epidemiologi, menyebarkan disinformasi, serta mempromosikan obat-obatan tanpa dasar ilmiah. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) bahkan dilaporkan disensor dan dipolitisasi dalam hal pelaporan data pandemi (Antonio, 2021). Kondisi ini bukan hanya mencederai kepercayaan publik terhadap sains, tetapi juga membuat pengambilan keputusan kebijakan menjadi tidak berbasis data. Amerika Serikat, negara yang dahulu menjadi pemimpin riset dunia, mulai kehilangan arah dalam kebijakan ilmiah dan kesehatan masyarakat.

Pada April 2025, beberapa laporan mengabarkan bahwa “Mahasiswa Internasional di AS Alami Pencabutan Visa Mendadak”. Kasus ini adalah refleksi langsung dari kebijakan eksklusif dan xenofobia yang tumbuh subur di bawah bayang-bayang Trumpisme. Mahasiswa internasional — tulang punggung kampus-kampus top dunia seperti MIT dan Harvard — kini hidup dalam ketidakpastian hukum dan politik. Langkah ini menandai pergeseran besar: dari negara yang dulunya membuka pintu bagi otak-otak cemerlang dari seluruh dunia, menjadi negara yang menutup diri dalam paranoia dan ketakutan. Pencabutan visa ini bukan hanya masalah administratif, melainkan juga isyarat ideologis bahwa sains dan pendidikan tidak lagi menjadi prioritas nasional.

Polarisasi ekstrem juga merambat hingga ke dunia akademik. Universitas-universitas yang secara historis menjadi pusat perdebatan dan kemajuan ide justru menjadi medan perang ideologi. Penolakan terhadap prinsip-prinsip dasar ilmu pengetahuan — seperti teori perubahan iklim atau vaksinasi — tidak lagi dibatasi pada ruang privat atau media sosial, melainkan mendapat panggung resmi dalam lembaga negara. Dalam penelitian terbaru, dijelaskan bahwa ketegangan politik di era Trump memicu resistensi terhadap aturan, bahkan ketika aturan tersebut netral dan berbasis sains. Jika aturan berasal dari kubu lawan politik, masyarakat cenderung menolaknya meski mereka sebelumnya mendukungnya (Feldhaus et al., 2024). Inilah bentuk nyata dari kemunduran rasionalitas publik.

Munculnya era “post-truth” selama pemerintahan Trump memperparah situasi. Berita palsu, teori konspirasi, dan pengabaian terhadap fakta menjadi norma baru. Riset menunjukkan bahwa masyarakat semakin percaya pada narasi-narasi alternatif meskipun bertentangan dengan bukti ilmiah (Nardon, 2017). Sains menjadi “relatif”, tergantung siapa yang mengucapkannya dan dari partai mana ia berasal. Dalam konteks ini, akademisi dan ilmuwan menghadapi delegitimasi. Pengetahuan tidak lagi dihormati sebagai hasil riset, melainkan dipandang sebagai “agenda elit” yang bertentangan dengan “kehendak rakyat”. Paradoksnya, inilah kondisi klasik dari masyarakat yang sedang jatuh ke dalam spiral kemunduran peradaban.

Amerika Serikat belum sepenuhnya kehilangan sains dan akademiknya. Masih ada universitas yang berjuang, masih ada ilmuwan yang berbicara, dan masih ada jurnalis yang melawan disinformasi. Namun, pertanyaannya bukan lagi apakah kemunduran ini nyata — tetapi seberapa lama sains dapat bertahan dalam sistem yang sudah menormalisasi kebodohan dan propaganda. Bila kondisi ini berlanjut — bila visa dicabut tanpa sebab, bila sains disensor, bila akademisi dicurigai, dan bila logika digantikan oleh fanatisme politik — maka kematian sains bukan hanya kemungkinan, melainkan takdir. Dan dengan matinya sains, akan datang kematian dari harapan, inovasi, dan masa depan.

Amerika Serikat saat ini tidak hanya sedang mengalami gejala-gejala fisik atau ekonomi sebagai negara “sakit”, tetapi sedang menghadapi krisis eksistensial yang merobek fondasi intelektual dan etisnya. Trumpisme menjadi metafora sekaligus mesin dari kemunduran ini. Ketika negara mulai memusuhi ilmu pengetahuan, menyingkirkan intelektual, dan menggantinya dengan kultus pribadi serta ketakutan etnis, maka jelas bahwa sang “Sick Man” telah muncul kembali — kali ini, di jantung dunia modern.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *