
Penggunaan plastik telah meningkat empat kali lipat dalam 30 tahun terakhir, dengan produksi mencapai 380 juta ton metrik per tahun. Di balik kenyamanan yang ditawarkan plastik, muncul ancaman serius berupa mikroplastik. Mikroplastik adalah fragmen plastik kecil dengan ukuran 5 mm atau kurang, yang dapat muncul langsung dalam ukuran mikro untuk produk tertentu atau terbentuk dari degradasi plastik besar di lingkungan. Partikel kecil ini ditemukan hampir di seluruh permukaan Bumi, mulai dari dasar laut terdalam hingga puncak gunung tertinggi, dari udara yang kita hirup hingga air yang kita minum. Keberadaan mikroplastik di lautan menjadi perhatian serius karena plastik lebih mudah terdegradasi di sana, sementara satwa laut sering kali mengira plastik sebagai makanan.
Mikroplastik juga memiliki kemampuan mengikat logam berat dan kontaminan lingkungan lainnya, yang kemudian terakumulasi dalam jaringan hewan yang mengonsumsinya. Bukan hanya satwa, manusia pun tak lepas dari ancaman ini. Air kemasan, makanan laut, debu, dan bahkan buah serta sayuran mengandung mikroplastik. Diperkirakan setiap tahun manusia dapat menelan sekitar 50.000 hingga 120.000 partikel plastik. Lebih mengkhawatirkan lagi, mikroplastik telah ditemukan dalam darah, paru-paru, ginjal, dan plasenta manusia, yang dapat menimbulkan dampak kesehatan negatif seperti gangguan mikrobioma usus, kerusakan DNA, reaksi alergi, hingga risiko kanker.
Sejak 1950-an, lebih dari 8,3 miliar ton plastik telah diproduksi oleh manusia. Sayangnya, hanya sekitar 9% dari jumlah ini yang berhasil didaur ulang. Sisanya dibakar atau berakhir di tempat pembuangan akhir, bahkan tak jarang mencemari lingkungan, terutama saluran air dan lautan. Jika produksi dan pembuangan plastik terus berlanjut tanpa kendali, pada tahun 2050 jumlah plastik di lautan diperkirakan akan melebihi jumlah ikan. Salah satu contoh yang nyata adalah botol plastik sekali pakai. Setiap menit, sebanyak satu juta botol plastik dibeli di seluruh dunia. Ketika tidak dibuang dengan benar, botol-botol ini akan terdegradasi menjadi fragmen kecil yang dikenal sebagai mikroplastik, tetapi mereka tidak pernah benar-benar terurai.
Secara umum, mikroplastik terbagi menjadi dua jenis, yaitu mikroplastik primer dan mikroplastik sekunder. Mikroplastik primer merupakan partikel yang sudah berukuran kecil sebelum masuk ke lingkungan, seperti microbeads dalam produk perawatan pribadi atau serat mikro dari kain sintetis. Misalnya, microbeads banyak ditemukan dalam produk kecantikan seperti scrub wajah, pasta gigi, dan tabir surya. Selain itu, serat mikro dari pakaian sintetis seperti fleece dapat melepaskan hingga 700.000 serat mikro dalam satu kali cucian. Sementara itu, mikroplastik sekunder berasal dari degradasi plastik besar seperti botol plastik, sedotan, kantong plastik, dan jaring ikan yang terurai menjadi partikel kecil seiring waktu akibat paparan cuaca, air laut, dan sinar matahari.
Mikroplastik dapat berpindah jauh melalui angin dan air, mencapai daerah terpencil seperti Samudra Arktik dan salju di Antartika. Bahkan, mikroplastik ditemukan di Parit Mariana, titik terdalam lautan, serta di puncak Gunung Everest, tempat tertinggi di Bumi. Banyak satwa liar, terutama hewan laut, mengira mikroplastik sebagai makanan. Pada burung shearwater di Pulau Lord Howe, Australia, sekitar 90% ditemukan memiliki plastik dalam perutnya. Partikel mikroplastik ini dapat menyumbat saluran pencernaan, menyebabkan rasa kenyang palsu, dan akhirnya berujung pada malnutrisi atau kematian.
Selain dampak pada satwa, mikroplastik juga berdampak pada kesehatan manusia. Mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh melalui air kemasan, makanan laut, buah, sayuran, bahkan udara yang tercemar. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa manusia bisa mengonsumsi mikroplastik sebanyak satu kartu kredit per minggu. Mikroplastik yang terhirup atau tertelan dapat mencapai aliran darah, paru-paru, dan plasenta. Hal ini berpotensi menyebabkan gangguan pada mikrobioma usus, merusak DNA, memicu reaksi alergi, bahkan meningkatkan risiko kanker. Bahan kimia dalam plastik seperti BPA dan ftalat diketahui dapat mengganggu keseimbangan hormon dan sistem reproduksi manusia.
Untuk mengurangi risiko paparan mikroplastik, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan. Hindari produk kosmetik yang mengandung microbeads dan pilih produk bebas plastik. Jangan memanaskan makanan dalam wadah plastik karena dapat menyebabkan pelepasan mikroplastik ke dalam makanan. Lebih baik minum air keran yang telah difilter daripada air kemasan, karena penelitian menunjukkan bahwa air kemasan mengandung lebih banyak mikroplastik. Selain itu, cucilah pakaian sintetis menggunakan kantong khusus seperti Guppyfriend untuk mencegah pelepasan serat mikro ke lingkungan.
Solusi teknologi juga terus dikembangkan untuk mengatasi mikroplastik dari lingkungan. Salah satunya adalah penggunaan nanokoil, yang dapat memecah mikroplastik menjadi air dan karbon dioksida. Ada juga teknologi cairan magnetik yang dapat menarik mikroplastik dari air. Selain itu, kebijakan seperti Microbead-Free Waters Act of 2015 di Amerika Serikat bertujuan untuk membatasi produksi dan distribusi kosmetik yang mengandung microbeads.
Permasalahan mikroplastik merupakan tantangan besar yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan perubahan kebiasaan individu. Diperlukan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan dunia industri untuk mengurangi produksi plastik sekali pakai, meningkatkan teknologi pengolahan limbah, dan menerapkan kebijakan pengelolaan plastik yang lebih ketat. Dengan langkah bersama, kita dapat meminimalkan dampak mikroplastik bagi kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan.
Sumber: EcoWatch. (2023). Microplastics 101: Everything You Need to Know.
