Dari Katsuwonus pelamis ke Nabi Sulaiman as

Bersama Dekan FIKP Universitas Hasanuddin, Safruddin, S.Pi., MP.,Ph.D

—Saya memulai tulisan ini dengan menyampaikan disclaimer lebih awal: artikel ini tentu tak seheboh judulnya.—

Sebuah kebanggaan mendapatkan kesempatan akademik dari Pak Safruddin (Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin) terkait topik oseanografi perikanan.

Salah satu penjelasan yang cukup menggelitik pada kesempatan tersebut adalah ketika beliau menjelaskan tentang migrasi ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) di beberapa tempat, khususnya di Negara Jepang. Diskusi berlanjut hingga membahas secara singkat mukjizat Nabi Sulaiman as.

Saya mendapatkan beberapa insight dari penjelasannya: perikanan merupakan dunia yang kompleks, bahkan jauh lebih kompleks dari pekerjaan seorang dokter (pada satu sisi). Seorang dokter mendiagnosa penyakit seseorang dengan cara mendapatkan penjelasan langsung dari pasiennya mengenai berbagai keluhannya.

Begitupun pula pada dunia peternakan, seorang dokter hewan bisa mendapatkan petunjuk tentang penyakit ternaknya dari penampakan visual secara spontan, tanpa perlu menyelam atau menggunakan interprestasi instrumen tertentu secara kompleks sebagai pendekatan sebagaimana pada dunia perikanan.

Dunia perikanan tak bisa dipungkiri telah menunjukkan kemajuan yang demikian pesat, namun demikian, dengan beragamnya organisme laut (spesies ikan khususnya), nampak bahwa respon ikan terhadap lingkungan perairan laut tak bisa digeneralisasi. Masing-masing spesies memiliki karakter habitat yang berbeda-beda.

Ilmu penginderaaan jauh telah ramai digunakan untuk membaca karakter masing-masing ikan, khususnya melalui data sea surface temperature (SST), sea surface chlorophyll (SSC), sea surface height anomaly (SSHA), eddy kinetic energy (EKE), dan sebagainya.

Sayangnya riset terkait faktor-faktor dan parameter oseanografi masih sangat terbatas, khususnya di Indonesia. Baik karena persoalan klasik ‘pendanaan’, juga karena skema riset yang manajemennya lemah dan tidak berkesinambungan, sehingga sulit untuk menyuplai kebijakan. Belum lagi kebijakan yang dihasilkan oleh para decision maker masih menafikan karya intelektual sebagai basis kebijakan politik.

Kompleksitas oseanografi perikanan tentu menjadi salah satu faktor pembatas dalam mengupayakan keseimbangan produktif antara relasi dunia industri dan stok sumberdaya perikanan. Andai saja kecakapan Nabi Sulaiman as dapat ditransfer dalam era kekinian, tentu kesulitan yang begitu rupa akan dapat dikontruksi langkah-langkah solusinya.

Nabi Sulaiman as dalam berbagai kitab agama samawi dinarasikan memiliki kemampuan berkomunikasi dengan seluruh makhluk dalam semesta ini mewarisi kecakapan ayahnya, yang juga seorang nabiullah, Nabi Daud as.

Mungkin ini terkesan konyol dalam membincangkannya dalam konteks kekinian, namun ini dapat membantu kita mengimajinasikan solusi atas kondisi sumberdaya kita, yang tengah mendapatkan tekanan yang luar biasa.

Biota ikan sebagai makhluk bertulang belakang memiliki syaraf-syaraf yang dapat merasakan stres dan kesakitan sehingga mereka berupaya migrasi ke lokasi sesuai karakteristik faktor-faktor kondisinya yang relevan.

Saat ini mereka migrasi tak bisa lagi diprediksi berdasarkan musim, bukan lagi migrasi dalam siklus alamiahnya. Siklus musim telah berubah ekstrim setelah keserakahan manusia dengan ‘mesin industrialisasinya’ mempercepat terjadinya perubahan iklim.

Jika saja mereka mengadukan keadaannya (dalam imajinasi kita seumpama kepada Nabi Sulaiman as) sepertinya ikan-ikan tersebut akan meminta perlindungan agar kuasa ‘kekhalifahan’ manusia atas dunia ini ditinjau ulang, karena manusia telah semena-mena kepada alam semesta, sampai-sampai tak ada keadaan yang stabil bagi alam ini untuk mendaur ulang kesiapannya melayani manusia.

Wallahu a’lam bishshowab.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *